Inspirasi

Aku Bekerja Keras Karena Aku Bukan Penikmat Harta Orang Tua

Anda akan tahu perasaan orang tua ketika menjadi orang tua. Anda akan sadar, bahwa biaya bersalin di rumah sakit itu sangatlah mahal. Biaya tersebut masih belum dihitung oleh rasa sakit sang Ibu.

Kemudian dilanjut dengan membeli berbagai keperluan anak seperti baju, makanan, susu, dan mungkin beberapa mainan. Mengurus anak tak cuma 1 hari, 2 hari, 1 bulan atau 1 tahun. Sangat lama sekali, seumur hidup!

Untuk memperoleh data yang mendetail mengenai berapa biaya yang Anda habiskan, simak ulasan berikut:

Biaya Hidup Anda dari Saat Usia 0 Tahun Sampai 18 Tahun

Bacaan ini dikhususkan untuk para anak di seluruh dunia. Mari kita hitung berapa biaya yang Anda habiskan.

Tapi ini masih hitungan kasar, jangan berharap hitungan ini sudah tepat. Hanya perkiraan saja, kalau salah mohon dimaafkan.

Biaya Hidup Anak Usia 0 sampai 6 Tahun

Ini adalah masa utama Anda yang masih anak-anak lahir ke dunia. Dimulai dengan membeli makanan Anda, susu, jajan, pakaian, kesehatan, pendidikan TK dan hiburan.

Mari kita hitung berapa uang yang Anda habiskan?

Makanan: Rp. 300.000

Pakaian: Rp. 200.000

Kesehatan: Rp. 300.000

Pendidikan: Rp. 300.000

Hiburan: Rp. 300.000

Totalnya: 1.700.000

Kemudian dikalikan 72 bulan yang setara demgan 6 tahun.

Hasil dari biaya yang Anda habiskan adalah Rp. 122.400.000

Biaya Hidup Anak Usia 7 sampai 12 Tahun

Semakin dewasa, uang jajan akan bertambah. Biaya ini itu semakin mahal, belum dihitung dengan uang sekolah dan buku-buku.

Pendidikan: Rp. 600.000

Pakaian: Rp. 300.000

Kesehatan: Rp. 300.000

Hiburan: Rp. 300.000

Totalnya Rp. 1.500.000 dan dikalikan 72 bulan (6 tahun).

Hasil dari biaya yang Ajda habiskan adalah Rp. 108.000.000

Biaya Anak Usia 13 sampai 18 Tahun

Biaya ini dihitung dari anak masuk sekolah SMP hingga lulus dari bangku SMA. Keperluan makin bertambah, anak-anak mungkin meminta kendaraan atau handphone kepada orang tuanya. Anak-anak juga semakin bergaya, tahu trend fashion, apa yang sedang viral, dan lain-lain.

Pendidikan: Rp. 800.000

Pakaian: Rp. 400.000

Kesehatan: Rp: 300.000

Dana Tambahan: Rp. 200.000

Totalnya adalah Rp. 1.700.000 dikali 72 bulan, sama dengan Rp: 122.000.000 rupiah.

Untuk biaya kuliah dan seterusnya seharusnya si anak sendiri lah yang membiayai.

Lalu coba semua jumlah itu kalian tambahkan.

Berapakah jumlahnya?

Renungkan

“Apapun akan kami berikan untuk anakku.”

Orang tua yang baik akan selalu mengatakan itu. Apapun akan diberikan untuk anaknya, yang penting itu baik dan mereka bisa dan mempunyai uang.

Tak ada orang tua yang pelit, dan tak ada orang tua yang perhitungan. Data di atas kami harap dibaca oleh para anak, orang tua kalian tak akan mau membaca data seperti itu. Karena apa? Mereka ikhlas.

Data yang kami tulis tersebut adalah contoh nyata dari kata, ‘banyak’. Percuma mengatakan orang tua telah memberikan uang yang banyak untuk anak-anaknya hidup nyaman tapi tak ada jumlah yang pasti dalam bentuk angka. Meski hanya perkiraan, tapi setidaknya kami tak hanya omong kosong. Sebab memang sebesar itu lah uang yang Anda habiskan.

Akan tetapi, biaya tersebut tak akan bisa Anda ganti. Ada banyak data yang tidak kami hitung, apalagi biaya yang telah dikorbankan ibu Anda.

Berat, jangan membahas itu. Kalian tak akan bisa membalas jasa Ibu Anda. Dari hidup sampai mati pun tidak akan bisa.

Yang bisa kita lakukan adalah meringankan beban mereka. Caranya dengan berlaku sopan dengan mereka, tidak berbicara dengan ilmu kalian di depan orang tua, tidak durhaka, merawat mereka, dan tidak menjadi penikmat harta orang tua seumur hidup kalian.

Beberapa anak mungkin tak memperoleh kehidupan yang layak dari harta orang tua mereka. Ada yang dari kecil sudah bekerja, menghidupi keluarga, atau mencari uang untuk biaya pendidikan mereka sendiri.

Anda yang terlahir dari keluarga tersebut adalah orang-orang yang hebat. Anda tidak manja. Anda telah meringankan beban orang tua.

Jangan merasa menderita. Sebab kelahiran Anda adalah takdir yang akan mengubah nasib Anda dan orang tua Anda.

Sekarang Anda mungkin bukan apa-apa, tapi mari kita menata langkah, 5 tahun ke depan, 10 tahun, atau 15 tahun lagi, Anda akan menjadi kejutan untuk mereka. Bekerja keraslah. Orang yang bekerja keras adalah orang yang sadar bahwa kita tidak boleh terus-terusan menikmati harta orang tua.

Orang tua telah berkorban banyak untuk anak-anaknya. Meskipun mereka sangat ikhlas, pasti dalam hati kecil mereka sedang menunggu-nunggu kira-kira kapan mereka bisa merasakan nikmatnya sesuap nasi yang dibeli dari uang anaknya.

Dan apakah Anda tidak ingin membayangkan momen-momen indah seperti:

“Ma, Pa, adek baru gajian. Mau makan di mana?”

“Ma, Pa, ayo belanja yuk. Adek belikan baju sama celana.”

“Tembok rumah kita kayaknya udah kusam, Adek belikan cat rumah ya. Enaknya warna apa ya, Pa?”

“Mama, Adek punya banyak uang loh. Mau beli panci baru gak?”

Aku Bekerja Keras Karena Aku Bukan Penikmat Harta Orang Tua

Ada banyak usaha yang dapat kita lakukan. Seperti bisnis online, jaga toko, freelancer, desainer, edit video, bisnis sesuai kemampuan dan masih banyak lagi.

Jangan lelah berjuang. Jadikan ini sebagai motivasi.

Anda bisa kapan saja kembali ke pelukan orang tua, meminta uang, meminta dibelikan ini dan itu. Tapi Anda tetap di jalan kalian saat ini, yaitu bekerja keras karena bukan penikmat harta orang tua.

Orang-orang seperti kalian adalah orang hebat! Kalian mandiri! Tidak menjadi beban keluarga!

Baca Selengkapnya...

Related Articles

Back to top button